Layanan Online Sari Asih Rapid Test, SWAB, Konsultasi Online
Layanan Online Sari Asih Rapid Test, SWAB, Konsultasi Online
Sari Asih Konsultasi Online

Hipertensi Dikalangan Anak Muda, Memang Bisa

26-10-2020

Bagikan :

SARIASIH.com – Hipertensi dikenal sebagai permasalahan kesehatan yang sering diidap oleh orang berusia lanjut. Hal tersebut dikarenakan hipertensi memang salah satu penyakit yang dapat hadir seiring pertambahan usia. Namun saat ini, anak muda juga ternyata berisiko menderita hal yang sama.

Terdapat dua jenis hipertensi yang kerap dialami oleh generasi milenial, primer dan sekunder. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang disebabkan faktor genetik dan lingkungan, selain itu bisa pula karena mengadopsi gaya hidup yang tidak sehat dan ditambah rendahnya intensitas olahraga serta tetap mengonsumsi diet tinggi garam.

Hipertensi sekunder merupakan akibat dari kondisi medis tertentu, seperti kelainan fungsi ginjal, pembuluh darah, jantung dan sistem endokrin. Menurut dr. Khalid Mohammad Shidiq, SpPD, dokter spesialis penyakit dalam di RS Sari Asih Karawaci, hipertensi yang terjadi pada usia muda harus digali terlebih dahulu kemungkinan adanya penyakit yang mendasari hipertensi sekunder, disamping melakukan terapi dan perubahan gaya hidup.

“Sekarang itu, usia penyakit-penyakit sindrom metabolik, salah satunya hipertensi udah makin muda. Dulu itu penderita rata-rata berusia empat puluh tahun ke atas, sekarang dari usia dua sampai tiga puluh tahunan juga sudah banyak ditemukan. Tapi pada usia muda pendekatannya berbeda, harus dicari dulu penyebab hipertensi yang sekunder. Jika semuanya tidak ada, barulah dapat dikatakan pasien mengalami hipertensi esensial” kata dr. Khalid.

Asupan yang tidak sehat dapat dikatakan menjadi pemicu awal dari adanya hipertensi. Anak muda lebih tertarik dengan makanan yang dirasa lezat dan enak. Padahal apa yang dikonsumsi kandungannya tidak jauh dari garam dan lemak.

Seperti yang diketahui, kedua bahan tersebut jika dikonsumsi terlalu banyak akan meningkatkan tekanan darah. Selain dari lauk pauk, cemilan yang dijual bebas juga menawarkan rasa gurih dan membuat penikmatnya tidah bisa berhenti mengunyah.

“Kandungan garam pada makanan sekarang ini memang lebih tinggi dibandingkan makanan dulu-dulu. Dengan tingginya asupan garam maka tekanan onkotik darah semakin tinggi, sehingga merangsang berbagai mekanisme dalam tubuh, dimana jantung akan memompa lebih kuat, sistem angiotensin di ginjal teraktivasi sehingga pembuluh darah menjadi semakin resisten, karena itu tekanan darah semakin tinggi. Apabila asupan yang terlalu banyak lemak, maka dapat membuat pembuluh darah jadi kaku” ujar dr. Khalid.

Obesitas juga erat kaitannya dengan hipertensi. Pada kondisi ini, resistensi pembuluh darah lebih tinggi, serta lebih mudah terjadi aterosklerosis pada pembuluh darah. Hal tersebut dapat memperberat hipertensi serta dapat mempercepat terjadinya komplikasi akibat hipertensi, seperti gagal jantung atau stroke, walaupun kondisi ini baru akan terjadi setelah bertambahnya usia.

Terlebih di kalangan anak muda, hipertensi seringkali tanpa diiringi dengan gejala meski tubuh sedang mengalami darah tinggi. Hal tersebut yang membuat banyak orang abai. Meski memang sakit kepala dan nyeri tengkuk bisa dijadikan tanda, namun kondisi demikian sedikit sekali terjadi.

“Sekali lagi, ini enggak ada gejalanya, sekalipun ada, itu tidak spesifik dan tidak sensitif. Lebih banyak pasien hipertensi yang merasa sehat tanpa gejala.  Gejala biasanya baru akan dirasakan saat telah terjadi komplikasi, misalnya sesak napas pada gagal jantung, bengkak pada gagal ginjal, pandangan kabur pada retinopati hipertensi, nyeri kepala atau lemah tungkai pada stroke” tutur dr. Khalid.

Hipertensi adalah masalah kesehatan yang bisa dicegah, dan bila sudah terjadi dapat dikontrol sehingga tidak akan menimbulkan masalah atau komplikasi. Dengan menjalankan pola hidup sehat dan mengurangi berat badan, maka risiko mengidap hipertensi dikemudian hari bisa ditekan.

“ Mulailah waspada dan melakukan medical check up apabila merasa memiliki faktor resiko hipertensi, misalnya ada keturunan orangtua yang mengidap hipertensi dan sakit jantung atau stroke,  memiliki badan yang obesitas, pola makan dan olahraga yang tidak sehat, merokok atau masih mengkonsumsi alkohol. Karena hipertensi bila diketahui lebih dini dapat ditatalaksana dengan lebih baik." tutup dr. Khalid.

 

 

Penulis:Dina Syelvila

Editor: dr. Khalid Mohammad Shidiq, SpPD

 

Konsultasikan Dengan Dokter
Coming Soon
Ok