Selamatkan Generasi Dengan Cegah Stunting

02-10-2018

Dilansir dari website resmi Kementrian Kesehatan bahwa sebanyak 3 dari 10 anak Indonesia bertubuh pendek atau kerdil. Secara khusus data di provinsi Kalimantan Selatan, sebanyak 4 dari 10 anak menderita Stunting.

Hal tersebut mencerminkan anak-anak memiliki peluang yang besar untuk menjadi korban dari penyakit yang menjadi konsentrasi pemerintah saat ini. Stunting tidak hanya membuat penderitanya memiliki masalah tubuh yang sangat pendek, tetapi secara kognitif juga tidak akan bekerja secara maksimal.

Otak anak akan bermasalah sehingga mempengaruhi kemampuan belajar serta mentalnya. Selain itu anak akan memiliki riwayat kesehatan yang kurang baik karena difaktori oleh daya tahan tubuhnya yang juga buruk dan bahayanya hal ini bisa menjadi warisan bagi generasi selanjutnya (degenerative).

Namun hal tersebut kini bukan lagi menjadi momok menakutkan, menurut penjelasan dr Hikmah Kurniasari MKM, CIMI, konselor laktasi di RS Sari Asih Ciputat, Stunting adalah permasalahan kesehatan yang bisa dicegah.

 Adapun cara yang bisa dilakukan oleh para Ibu hamil yaitu harus melakukan antenatal care atau rutin dalam memerkisakan kehamilannya, memperhatikan gizi dan asupan yang seimbang dengan sesuai porsinya.

"Gizinya mengandung 4 bintang yaitu karbohidrat, protein hewani, kacang-kacangan dan buah juga sayur. Jangan lupa jaga kebersihan. Tidur cukup 6-7 jam di malam hari dan siang hari kalau mau 1-2 jam tidur atau berbaring boleh banget," ujar dr. Hikmah

Asupan ibu hamil disarankan hanya perlu menambah satu piring sajian makanan atau sekitar 300 kkal dengan isian seperti sayur, buah, karbohidrat dan makanan yang berunsur hewani dan nabati.

"Setengah piring isi sayuran dan buah. Lalu seperempatnya makanan pokok (karbohidrat) dan seperempatnya lauk pauk (protein hewani dan nabati). Jangan lupa ibu minum yang cukup dan asup makanan yang bersih dan aman," terang dokter yang sekaligus menggawangi Rumah Laktasi di RS Sari Asih Ciputat ini.

Pada saat bayi baru lahir, terapkan IMD atau Inisiasi Menyusui Dini sebagai pemenuhan kebutuhannya ketika bertemu dengan dunia baru, kemudian lanjutkan dengan pemberian Asi ekslusif, Mpasi yang berkualitas dan meneruskan ASI hinga anak berusia dua tahun.

dr. Hikmah juga menambahkan jika anak menderita Stunting memiliki risiko kematian empat kali lebih besar, anak Stunting juga berpeluang hanya memilki tingkat IG 11 kali lebih rendah dan jika sudah dewasa pendapatannya 22% lebih rendah dibandingkan dengan yang bukan penderita.

"Stunting ini biasanya jadi kayak lingkaran setan. Anak Stunting saat remaja jadi kurang gizi kemudian menikah dan jadi ibu, hamil, jadi ibu hamil yang kurang gizi. Lalu lahirkan bayi dengan berat badan bayi rendah atau bahkan prematur. Kemudian bisa jadi anak kurang gizi. Jadi ini mutar terus makanya perlu kita potong siklusnya," terang dr. Hikmah.

Coming Soon
Ok