Imunisasi, Bisa Cegah Campak

20-07-2017

SARIASIH.com - Penyakit Campak menjadi penyakit yang serius dan mematikan di beberapa negera berkembang. Data yang dilansir UNICEF, Indonesia menjadi salah satu negara berkembang yang penyebarannya ini tergolong besar. Sebanyak 30.000 dari 340. 000 anak Indonesia meninggal akibat campak setiap tahunnya. (Antara, Senin 18/10/2010). Itu berarti, setiap 20 menit, seorang anak di Indonesia meninggal karena campak.

Dokter Spesialis Anak RS Sari Asih Serang, Dr. Asrul, SpA, mengatakan, penyakit campak  adalah penyakit akut yang sangat menular, disebabkan oleh infeksi virus golongan Paramyxovirus. Pada umumnya, virus ini menyerang anak. Secara klinis, gejala campak terdiri dari 3 stadium yang masing-masing memiliki ciri khusus.

“Stadium 1 yaitu stadium masa tuntas, diperkirakan 10 – 20 hari. Stadium 2 yaitu stadium prodromal yang menunjukkan gejala pilek dan batuk yang meningkat dengan ditemukannya enantem pada mukosa pipi, seperti bercak koplik, faring, dan mokosa konjungtiva meradang. Dan stadium 3 yaitu stadium akhir, keluarnya ruam dimulai dari belakang telinga menyebar ke muka, badan, lengan, dan kaki. Ruam timbul didahului dengan suhu badan meningkat (bisa mencapai 40° Celsius), selanjutnya ruam menjadi menghitam dan mengelupas,” jelas Dr. Asrul.

Di negara sedang berkembang, campak menjadi penyakit endemis, terutama Indonesia. Dari penelitian retrospektif dilaporkan bahwa campak di Indonesia ditemukan sepanjang tahun. Studi kasus campak yang menjalani rawat inap di rumah sakit selama kurun waktu lima tahun (1984–1988) memperlihatkan peningkatan kasus pada bulan Maret dan mencapai puncaknya pada bulan Mei, Agustus, September, dan Oktober.

“Pengalaman juga menunjukkan bahwa epidemik campak di Indonesia timbul secara tidak teratur. Di daerah perkotaan, epidemi campak terjadi setiap 2-4 tahun. Wabah terjadi pada kelompok anak yang rentan terhadap campak, yaitu di daerah dengan populasi balita yang banyak mengalami gizi buruk dan daya tahan lemah,” lanjut Dr. Asrul.

Lebih lanjut dikatakan dr. Asrul, campak menyebabkan penurunan daya tahan tubuh secara umum, sehingga mudah menjadi infeksi sekunder atau penyulit. Penyulit yang sering ditemui adalah Bronchopneumonia, Gastroenteritis, Encefalitis, dan lainnya. Penularan campak terjadi secara droplet melalui udara (menghirup percikan ludah, mulut, hidung, maupun tenggorokan penderita campak).

“Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam,” kata Dr. Asrul.

Untuk mencegahnya, Dr. Asrul mengatakan bahwa kekebalan terhadap campak diperoleh setelah pemberian imunisasi aktif pada bayi berumur 9 bulan atau lebih. Dan kekebalan pasif pada seseorang yang lahir dari ibu yang telah kebal terhadap campak.

Coming Soon
Ok