Difteri, Seperti Apa?

13-12-2017

SARIASIH.com – Pemerintah sedang massif melakukan imunisasi difteri di hampir semua wilayah. Sangat beralasan, karena penyakit difteri sudah menyerang ratusan orang dan menelan korban jiwa. Di beberapa wilayah difteri telah digolongkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Penyakit difteri masih asing di telinga sebagian masyarakat. Apa sebenarnya penyakit difteri ini?

Dokter Umum RS Sari Asih Karawaci, dr Ahmad Fauzan menerangkan jika difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Bakteri ini menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Pada kasus yang lebih tinggi, terkadang dapat mempengaruhi kulit.

“Gejala penyakit ini menyebabkan demam, batuk, nafsu makan menurun, sakit saat menelan, nyeri tenggorokan, pembengkakan di leher, suara menjadi serak, nafas berbau, dan sulit bernafas.” ujar dr Ahmad Fauzan.

Beberapa orang yang terinfeksi difteri tidak akan menyangka sebelumnya, karena penyakit ini lebih mirip seperti penyakit flu pada umumnya. Difteri juga memiliki masa inkubasi (rentang waktu sejak bakteri masuk ke dalam tubuh sampai gejala muncul) yaitu dua hingga lima hari. Orang yang terkena difteri dapat mudah dicirikan dengan terbentuknya lapisan tipis warna abu-abu yang menutupi tenggorokan.

Dokter Ahmad Fauzan juga menjelaskan bagaimana cara difteri masuk ke dalam tubuh seseorang. Menurutnya, ada beberapa cara penularan penyakit ini yaitu melalui percikan di udara saat bersin atau batuk yang keluar dari seseorang yang telah terinfeksi. Ada juga melalui barang-barang yang sudah terkontaminsai oleh bakteri seperti mainan atau handuk, serta sentuhan langsung pada luka borok yang terdapat di kulit penderita.

Tidak jarang, terdapat penderita yang meregang nyawa akibat difteri, apa sebabnya?

Difteri bisa mematikan karena menghasilkan racun yang merusak sel-sel sehat dalam tenggorokan menjadi sel mati. Membran yang terbentuk di tenggorokan dapat menutup jalan napas. Racun yang disebarkan juga berpotensi menyebar dalam darah dan merusak jantung, ginjal serta sistem syaraf.

“Difteri bisa menular kepada orang-orang di sekitarnya, terutama bagi mereka yang belum mendapatkan imunisasi,” sebut dr Ahmad Fauzan.

Langkah pencegahan ?

Langkah pencegahan paling efektif untuk difteri ialah melalui vaksin yang tergabung dalam vaksin DTP. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan batuk rejan. Vaksin DTP termasuk imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya, dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin Td dapat diulangi setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal.

Jika terdapat gejala-gejala seperti di atas, segeralah berkonsultasi dengan dokter di layanan kesehatan terdekat. Pengobatan yang cepat dan tepat dapat menyelamatkan orang terkasih anda.

Coming Soon
Ok